Black love
Jiwa sufi
Tasawuf penuh arti
haus akan cinta
kau koyak-koyak
jiwa sepi
kau remas-remas tubuh sunyi
kau jilati sisa lindir
bayi kecil
kau palingkan tubuhmu
pada kesucian
dengan tubuh ku bibir yang semerbak
anggur merah
yang ku cumbu
malam itu
sambil kuremas-remas doa
ditubuh mu
kau hanyut akan nafsuku
pada hasrat mu
kau abaikan aku
dengan cintamu
Ratapan jiwa
Langkah ku hampa
Rasa suram yang menyelimuti kalbu
Rasa sengau yang menggebu-gebu
Saat ku coba meratapi susu sepi
Kau dustai ku
Kau cabik-cabik
Kemaluanku
Ha ha ha
Semakin lama ku mengaung
Semakin kau senyum
Ku diratapan hutan rimba
Yang menggoda penuh makna
Pengorbanan
Kau larungkan akau dalam renungan
Seribu penyair
Terseruput
Kegaiban tak berujung
Pada bait paling hening
Di mengis matamu
Angin penyihir dan
Cemara tak berdesir
Menebar mantra-mantra senja
Menghantar senyap
Menghantar seribu
Guna-guna
Maka cobalah tinjau
Disetiap kemabukan
Yang dikeramatkan
Hati pada cinta
Lihatlah kepedihan ini
Dari nanar
Yang kau ramu dalam anggurku
Matahari terbakar karena takdirnya
Api
Takdirku terbakar
Sebab cintamu
Dan kini
Selainmu siapalagi
Yang mampu meleraiku
Dari keinginan tuk terbakar.
Kasih sayang
Semilir angin di
Pagi hari
Merobek nafsu di
Keheningan malam
Suara burung kecil
Pekik
Melengking
Menggores dada
Detak jantung yang menggoda
Ratapanmu penuh makna penuh arti
Malam kelam
Rasa satiri memutuskan angan-angan
Tatkala hujan rintik
Membasahi kening
Seakan menyejukan jiwa sepi
Yang hanyut akan mimpi
Saat kau peluk
Cium
Tubuhku
Seakan susu sepi membasahi bibirku
Kau malaikat kecil penuh arti dalam mimpi
Marah, Senyum kerap salah
Terik matahari dipelataran gurun
Kecil
Diantara sama dan ared
Lupa akan hajar sawad
Lupa akan mina
Gapailah haji wadda
Tatkala kau berpaling akan kesucian
MATHLA'UL ANWAR
A. Syaeful R.
Untuk Insan Syahidku
Terumbu diatas karang
Bahru penuh juram
Insan yang penuh harapan
Lelah letih tak kau hiraukan
Wahai insan mulia
Gapailah bahru
Maya mu
Bukan maya
Tinggalkan pajar
Tinggalkan rembulan
Hijrahlah duhai insan
Pandang kedepan
Harapan menanti mu
Letih mu
Getir mu
Ta'zim mu
Bukan maya mu.
040808
BERI AKU CIUM
A.Syaeful. R
Untuk sang penjiwa
Saat ku lirik belahan kening mu
Ku pegang erat tubuh mu
Ku lucuti hijab rarai mu
Penuh mesra penuh makam
Ku cium bibir mu
Seakan kentut yang sungkan
Tuk hijrah
Ku pegang erat tubuh mu
Kau manjakan aku
Kau membuatku kepayang
Melayang
Oh Oh
Oh !!!
Tubuh yang aduhai
Merbak penuh merahrai
Sungguh ku senang malam itu
Dengan tubuh yang molek
Bibir yang semerbak anggur
Aku puas !
Ha ha ha
Aku puas !
Em
Oh
Aku goblok
tolol
Aku bukan pejantan
Ah
Masa bodoh
Aku puas
Akan semerbak anggur
Akan tubuh yang molek
DIA yang mengantar tubuh ku
Makam
Suram
Seram
Penuh ranjam
he he AH
Masya Allah.
040808
Nuzulul Qur'an
A.Syaeful. R
Diatas amparan sajadah
Ruh yang hampa akan cinta
Akan rasa pilu nan sedih
Seakan mengupas rasa pilu yang lalu
Rasa tahajud seakan menyelimuti kalbu
Di qobla kumandang adzan
Hamba yang duduk merenung
Yang pilu akan bunda
Hamba bangkit
Berdiri
Duduk di atasnya
Dengan empat kaki sambil bergoyang
Bagai pinggul sang penari dangdut
Di dalam kuburan
Yang sunyi
Jauh akan mimpi
Yang seakan terjadi
Tapi
Itu Mimpi.
17908
16 Ramadhan
A.Syaeful. R
Saat sang mentari menari
Di atas rimbunnya makhluk suci
Di antara malaikat yang sibuk
Akan amanah sang ilahi
Sepasang Malaikat kecil berlari
Sabil melenggak lenggokkan pinggulnya
Bagai sang dewa dewi
Menyanyi tuk menuju mentari
Saat malaikat membaca mantra
Kau duduk ku duduk
Kau melempar senyum penuh cium
Di lataran pohon yang rindang
Ku remas-remas dadamu
Ku ambil tulang rusuk mu
Yang kau pinjam sejak dulu
Bagai do'a hari lebaran
Penuh makam nan riang
Dalam munajat mimpi
Tuk menghapus
Tubuh ku bekas tubuhnya
Dengan tubuh mu.
Saat mentari untuk menggapai hari esok.
Ramadhan ladang suci menggapai Mimpi
Karena hidup adalah perbuatan
17908
Pesan untuk erna
Dikeheningan malam
Rasa cinta yang meremas-remas dada
Rasa sayang yang menggoda
Em
Senyum dusta
Kalam ilahi menggores
Hati
Sayang
Terik matahari
Dipelataran gurun kecil
Diantara sama dan ard
Lupa akan hajar aswad
Lupa akan minna
Gapai haji wadda
Tatkala kau berpaling akan kesucian
Satiri
Ku sejenak berpaling akan mimpi
Di keheningan malam
Ku olengkan sanubari akan ilahi
Di amparan sajadah
Ku mainkan bibir ku
Dinaungan tubuhnya
Lalu kuratapi hati sang insane
Yang larut akan lahar
Cinta adalah anugrah
Rasa saying penuh amanah
Cinta kasih penuh mimpi
Tuk menanti pajar diesok hari.
kesucian
Tahajud ku harap do'a
Pagi kusambut mentari
Terlelap lama dalam mimpi
Petang yang pergi entah kemana
Ukiran ilahi penuh makna
Yang harus di tafakuri
Rasa syukur yang terlontar dalam dzikir
Robbi habli mina asholihin
Bagi waktu yang mustahil tuk kembali
Rasa cinta nan saying takan terhapus dalam mimpi
Mimpi hamba ilahi
kesedihan
Jiwaku makam hening penuh ilusi
Rasa cium takan hilang dikening ku
Dipelataran kota kau taburkan kemboja
Kau peluk erat nisan ku
Kau tandu jiwa yang tak bermakna
Jiwa yang riang kau tinggalkan
Ku jahlu yang tak bercermin
Naskah Tanpa judul
Hidupku penuh arti
Tersembunyi akan langkah
Sunyi sepi
Ku melata merayap
Layaknya ular yang berbisa
Ku tenggereng
Mengaung
Layaknya srigala
Tapi
Hati ini oleng
Akan senyuman-Nya
Akan belayan-Nya
Saat ini ku ratapi hidup
Ku koyak-koyak tubuh ini
Akan hidup yang tak penuh arti lagi
Akan jiwa yang penuh satiri
Akan insan nan jauh di hazannah
Dua ribu 9
Rinai hujan
Kembang api seakan pelik menyeset hati
Rasa rindu yang tak kenal mati
Walau kelak kunjung terkubur dalam mimpi
Seonggok tubuh renta
Tergolek penuh maya
Diamparan helaian benag hitam
Em em em
Ah
Walau ribun kunang-kunang
Singgah dipelataran pemakamanku
semua hampa lara tanpa arti
rasa rindu cium akan hajaraswad
akan perih
letih
sedih
Kesetiaan
Malam yang hening
Yogya
Satiri yang berpaling
Wahid ruh
Penuh metaphor yang berarti
Kurajut doa
Kurajut jiwa
Penuh asma akan cinta
Angan-angan
Ku sejenak berpaling akan mimpi
Di keheningan malam ku olengkan sanubari akan ilahi
Di amparan sajadah
Ku mainkan bibir ku
Di naungan tubuhnya
Lalu kuratapi hati sang isan
Yang larut akan susu sepi
Cinta
Adalah anugrah
Cinta
Kasih penuhmimpi
Tuk menanti pajar
Di esok hari
Mustajab
Tahajud ku harap doa
Pagi ku sambut mentai
Terlelap lama dalam mimpi
Petang yang pergi entah kemana
Ukiran ilahi penuh makna
Yang harus di tafakuri
Rasa syukur yang terucap dalam dzikir
Robbihabliy mina assholihin
Bagi waktu
Yang mustahil tuk kembali
Ras cinta nan saying
Takakan terhapus dalam mimpi
Mimpi hamba ilahi
Insan
Jiwaku makam
Hening penuh ilusi
Rasa cium takan hilang
Dikening ku
Di pelataran kota
Kau taburkan kemboja
Kau peluk erat
Nisan ku
Kau tandu
Jiwa yang tak bermakna
Jiwa yang riang
Kau tinggalkan
Aku jahlu yang tak bercermin
